"Gemes juga, penginnya nich kalau ketangkep gua cincang dia."
Pagi pagi betul dia bergegas pergi keluar dari rumah, sepeda Gazella ia kayuh dengan gagahnya menuju tempat di mana ada orangtua yang biasa diajak konsultasi, ya kyai sapi'i seorang kyai kharismatik.
Pembawaanya biasa saja, bersahaja, sederhana tidak terlihat seperti kyai pada umumnya, tidak membuat orang canggung maupun segan dengan beliau sehingga permasalahan bisa tersampaikan dengan detail tanpa takut ditutup tutupi.
"Jadi begini pak kyai, sudah tiga hari ini ada saja yang hilang, kalau ikan asin sih sillakan saja, nah ini kepingan emas." Kata subono mengebu gebu.
"O begitu, ya mungkin itu pencuri, kalau ketemu tangkep saja."
"Ah pak kyai ya tau kalau yang mencuri ya jelas pencuri, maksud saya tau siapa dia? Apa yang harus saya amalkan pak kyai." desak Subono
"Ooh gitu, yang pertama kamu harus rajin sodakoh kepada orang yang tidak minta kepadamu, kedua kamu harus bangun tengah malam dan bacalah apa yang akan saya berikan nanti berulang ulang sampai kamu kantuk." Terang pak kyai
"Baik pak kyai apapun syaratnya saya akan penuhi yang penting saya tidak was was lagi dan pencuri itu gak berani mendekat ke rumah, oya amalan yang harus saya baca mana pak kyai?"
"Sabar, saya tulis dulu, nanti tolong jangan dibuka kecuali saat kamu akan mengerjakan, sekitar jam 12 malam ke atas dan jangan protes serta gak boleh dilebih lebihkan atau dikurangi harus sesuai tulisan." pesan pak kyai.
Malam itu begitu terasa dingin, tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalan depan rumah mewah subono, sementara televisi depan pos penjagaan menyala menemani satpam pribadi Subono yang selalu berjaga tiap malam sampai siang.
Sekelebat bayangan melesat tiba tiba membuat satpam sibuk mencari sumbernya, sementara jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam. Bunyi daun kering yang terinjak menyeruak dan satpam belum juga mendapati siapa siapa. Namun setelah dirasa aman satpam kembali ke pos penjagaan di depan rumah.
Sementara itu Subono terlihat sholat dan perlahan membuka kertas yang dikasih pak kyai untuk dibaca setelah selesai sholat. Terlihat wajah yang kaget tak terbayangkan sebelumnya setelah membaca tulisan pak kyai.
"Wah pak kyai pasti keliru ngasih kertasnya, mungkin ini tulisan anaknya, masa gak ada doanya?" gumam subono dalam hati
Namun Subono ingat betul pesan pak kyai, jangan protes. Ya itu pesan yang harus ditaati, maka setiap malam selama seminggu Subono mengamalkannya. Dalam seminggu itu tidak terjadi pencurian apapun, namun Subono masih penasaran dengan tulisan yang dia baca, maka Subono akhirnya menanyakan kepada pak kyai apakah itu benar tulisannya, ternyata tidak salah.
Malam itu gemblung merencanakan pencurian dengan target rumah subono, karena dia pikir pemilik rumah sudah lengah sebab sudah seminggu lebih.
Satpam tidak mengetahui kalau ternyata di dalam kawasan rumah sudah ada pencuri yang masuk, dengan segala kelihaiannya gemblung beraksi ia sudah berhasil membuka pintu belakang, namun entah apa yang terjadi gemblung keluar lagi dengan wajah ketakutan setengah mati dan lari terbirit-birit keluar rumah dan pergi.
" Bagaimana Blung, sukses? Tanya kampret
"Boong lu, lu bilang kalau rumah Subono aman, eh ternyata dia orang sakti, untung gak ketangkep." Sahut Gemblung
"Saya gak bohong kok, sepuluh kali saya mencuri si rumah subono, aman aman saja."
"Baru saja saya masuk ke rumah lewat pintu belakang, dari arah tempat sholat Subono ngomong ke saya." jelas Gemblung
"Ngomong apa?" Tanya kampret
"Begini...
Kamu masuk aku tau, kamu lewat pintu aku juga tau, kamu tengok kanan kiri akupun tau, kamu bingung aku tau juga,
Begitu berulang ulang dia ngomong sama saya, padahal saya saja gak tau posisi Subono di mana hanya perkiraan sumber suara terdengar dari dalam ruang sholat.
Sejak saat itu Subono dikenal di kalangan pencuri orang sakti sehingga tidak ada yang berani mendekat apalagi sampai menyatroni rumah milik Subono.
By Mohamad Gozali
Komentar
Posting Komentar