Langsung ke konten utama

Pantaskah...


Tak sesuci yang kau kira
Tak sedekat yang kau sangka
Kulit tak dapat mengeksplorasi isi
Cukup khusnudhon sangkaan tak akan terbebani

Intensitasmu membawa ke arah angkuhmu
Kedekatanmu membuat “rasa” itu berubah jadi “merasa”
Angkuhmu menutupi etika kesopanan terhadap mereka yang jauh
Sikapmu membuat yang jauh menjadi rendah dihadapanmu

Tak begitu berpengaruh pada sang kekasih hati
Tidak ada masalah yang menjadi “sesuatu”
Semua sederhana, mengalir begitu saja tak ada yang penting-penting amat
Rumit jadi sederhana, tidak ada sesuatu yang begitu serius

Apakah dekat dengan kekasih ada jaminan masuk syurga?
Tingkah laku aneh sang kekasih tak sanggup diterjemahkan
Semua tentang kekasih hati ditelan mentah-mentah
Kedekatannya membuat mata jadi buta, telinga tak sanggup mendengar

Akalmu tak sehat lagi, kamu mabuk, kamu sudah gila
Tak bisa mencapainya bahkan tak dapat mengunyah 
Ada yang harus difilter tapi kamu tidak sanggup mengambil sikap
Takut dengan kutukan sang kekasih hati

Patuhmu menjerumuskanmu
Kritismu hilang tersapu sikap kultusmu
Akal sehatmu tergadai, jernihmu tercampur racun yang siap mencekikmu
“Merasa” berbanding lurus dengan “fatamorgana”

Ada tapi tak ada….

Tak sekedar hanya dekat
Dekat ternyata sebuah modal yang tak akan bisa mencukupi
Walaupun ada nilai hikmah syafa’at di sana
Jika syarat tak terpenuhi dekat hanyalah sekedar jarak tak memiliki nilai

Nun jauh di sana sesosok pengagum tak sanggup mendekat
Kekasih hati yang selalu dirindu, diucapkan setiap detik dalam detak jantungnya
Hilang kepercayaan pada dirinya, rasa bersalah dengan lumuran dosa yang mengepung
Membuat tak berdaya mendekat kekasihnya bahkan hanya sekedar untuk menatap

Lidah terasa kelu tak sanggup menyampaikan perasaan cintanya
Gemetar seluruh tubuhnya 
keringat dingin bercucuran bahkan dada terasa bergemuruh
mendendangkan lagu tanpa syair, melantunkan bait puisi yang tak tertoreh

Adakah nilai kepantasan untuk bersanding dengan kekasih hati
Masihkan relevan ujaran kata tak beraturan merangkai asa 
Sanggupkah kekasih hati menguliti rindu tak terperi yang ada dalam relung hati
Atau mungkin malah tak nampak karena tertutup oleh keagunganNya

Bongkahan asa yang hancur karena lumuran dosa
Berharap ada dzarroh tersisa di dalam leburan
Semua hanya ilusiku, semua hanya ekspetasiku, semua hanya anganku
Aku sadar bahwa semuanya bukan wilayahku

Namun wilayahMu ya Rabbi…
Dekatkan aku dengan kekasihku ya Robbi
Sang pembuka cakrawala kehidupan, sang penumbang arca-arca jahiliyah
Rasulullah Sollallahu alaihi wasallam

Salam rindu buatmu ya Muhammad kekasih hatiku.

By Mohamad Gozali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah dari Kepatuhan

"Gemes juga, penginnya nich kalau ketangkep gua cincang dia." Pagi pagi betul dia bergegas pergi keluar dari rumah, sepeda Gazella ia kayuh dengan gagahnya menuju tempat di mana ada orangtua yang biasa diajak konsultasi, ya kyai sapi'i seorang kyai kharismatik. Pembawaanya biasa saja, bersahaja, sederhana tidak terlihat seperti kyai pada umumnya, tidak membuat orang canggung maupun segan dengan beliau sehingga permasalahan bisa tersampaikan dengan detail tanpa takut ditutup tutupi. "Jadi begini pak kyai, sudah tiga hari ini ada saja yang hilang, kalau ikan asin sih sillakan saja, nah ini kepingan emas." Kata subono mengebu gebu. "O begitu, ya mungkin itu pencuri, kalau ketemu tangkep saja." "Ah pak kyai ya tau kalau yang mencuri ya jelas pencuri, maksud saya tau siapa dia? Apa yang harus saya amalkan pak kyai." desak Subono "Ooh gitu, yang pertama kamu harus rajin sodakoh kepada orang yang tidak minta kepadamu, kedua kamu har...

Semarang Selalu Terkenang

  Sirine mengaung aung memekakan telinga menerobos lampu merah di jalanan yang begitu padat lalu lalang pengguna jalan pulang dari pekerjaannya. Sore itu semburat orange nampak menipis dari arah barat, mentari hanya sebatas kenangan dan datanglah suasana malam Adzan Maghrib berkumandang menyeru bagi mereka yang butuh ridho Allah. Wajah cantik seorang muslimah terlihat begitu gusar berdiri di halte menunggu bus Trans Jateng. Waktu bergulir begitu cepat Maghrib pun hilang berganti malam. Suasana kota Semarang malam itu bertabur sinar lampu merkuri terlihat menawan semenawan Naila sang gadis muslimah yang tidak kebagian bus kota. Dari arah kafe dekat halte ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Naila yang nampak mondar mandir kebingungan karena kemalaman di jalan. Tergerak hati sang pemuda menyambangi gadis muslimah, sekedar bertanya, dan menawarkan tumpangan. Curiga merangsak hati Naila untuk menolak tawaran sang pemuda yang berkalung salib itu. Walau begi...