Langsung ke konten utama

Refres Otak Kita

Tetesan embun pagi itu terlihat bagaikan butiran –butiran mutiara yang keluar dari sisa anugerah Allah tadi malam. Sorotan matahari yang menerpa kami memberikan kehangatan di tengah panasnya dua kubu yang sedang bertaruh mengantar pasangan mereka ke puncak kekuasaan.

Penatnya rutinitas setiap hari sangat mengganggu kesehatan otak kita, namun sejalan dengan semua itu perlu adanya refress, kebekuan daya fikir kita, perlu dicairkan sehingga pencapaian yang kita inginkan tidak monoton, ada variasi yang bisa menyegarkan dan sedikit menghilangkan ketegangan yang hanya akan merusak sendi dalam kehidupan fisik maupun psikis kita.

Ada keinginan di sana namun juga ada harapan di sini, jangan sampai keinginan menggugurkan harapan. Cari yang lebih besar sementara si kecil kita kesampingkan. 

Perlu adanya keseimbangan dalam hidup. Raga ini perlu perawatan jangan dipaksa dan diperkosa mencari kesenangan dunia semu dan limited, setelah semuanya didapat badan lelah ancaman kanker datang, struk melanda, mereka berafiliasi membentuk sebuah organisasi leburan mengubah menjadi koalisi komplikasi yang siap menggempur tubuh yang lengah dan terpuruk, apakah kamu mau? 

Sebuah pertanyaan klise yang bermuatan memaksa untuk menggiring pada satu alur jawaban “tidak!”

Pagi itu awan tebal nakal selalu saja menggoda mentari yang ingin menampilkan diri untuk bisa dilihat makhluk diatas muka bumi ini, namun awan mendung tak rela kalau ada yang sengaja merebut perhatiannya, sementara seekor burung merpati meliuk-liuk mengepakkan sayap siap mengincar pasangan kekasih hatinya.

di sisi lain seekor merpati yang sedang terbang tinggi dalam kalut dan kebingungan mencari belahan hatinya yang sengaja disekap oleh tangan jahil manusia seakan sedang menguji kesetiaan sang peliharaannya itu. 

Di atas terlihat dia seperti mengikutiku terbang kemana arahku berjalan. 

Jalanan mulus beraspal sesekali lubang muncul begitu saja menggetkan motor tuaku yang sedang melaju, walaupun tidak separah dulu saat proyek jalan tol masih berjalan, namun belum semulus yang diharapkan, apalagi jalan yang menuju desa Sungapan merupakan jalur yang banyak dilalui oleh masyarakat sekitar dan juga masyarakat diluar daerah yang justru semakin banyak. 

Hal ini karena dibukanya Taman Makam Pahlawan Pengeran Benowo diolah dan dirias sehingga lebih cantik dan menjadi obyek witasa Benowo Park.

Ternyata saya lihat ke atas merpati itu sudah tidak lagi mengikuti arahku berjalan, yang terlihat hanya lajur beton yang lebar menjadi sebuah terowongan karena jalan yang saya lalui menerobos dan membelah ruas jalan tool. 

Ya jalan tol yang menghubungkan Pemalang Semarang, walaupun belum sempurna namun sudah bisa dilalui oleh banyak kendaraan. Dampak dari jalan tol tentu ada yang positif dan juga negative namun dalam hal ini saya tidak akan mengkritisi kebijakan pemerintah saya hanya berharap Negara Indonesia akan lebih baik untuk tahun yang akan datang siapapun presidenya.

Tidak terasa sampailah dipertigaan jalan antara desa jebed, sungapan dan penggarit, sayapun membawa kendaraan ke desa Penggarit, roda kendaraan melaju membawaku ke sebuah pemandangan yang begitu asri kanan kiri jalan terlihat sungai dengan debit air yang cukup tinggi, pepohonan yang hijau serta rumput yang tumbuh dan terawat, sungguh menjadikan pikiran jadi adem.

Terpampang tepat di depan saya sebuah bendungan besar dan kendaraanpun harus turun gigi untuk mendaki jalanan yang cukup tinggi yang dibawahnya adalah bendungan dengan air terjun yang begitu deras airnya, sampai tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kita terjun bebas ke bawah, jalanan yang cukup sempit dan harus bergantian jika ada mobil lewat menjadikan nyali menjadi ciut, bagaimanapun tak ada yang berani ceroboh di atas jembatan yang tidak lebar itu.

Jalanan turun dan berbelok arah ke kanan melewati sebuah taman makam pahlawan Penggarit menelusuri sungai di sebelah kanan saya, dan tidak lama terlihat gerbang masuk yang dijaga oleh petugas loket, dan terpampang diloket tulisan besar Rp. 3000 perorang, sebuah harga yang sangat murah untuk sebuah kawasan wisata.

Lahan parkir cukup luas dipisah antara kendaraan roda dua dan mobil, sementara sebuah arena olahraga panah terlihat ramai dikunjungi dan digandrungi anak-anak usia SD dan SMP.

Masuk saya ke area wisata yang lebih tepat kalau saya bilang adalah sebuah taman yang dibangun pemerintah setempat dan diuri-uri oleh warga setempat dengan jajanan jaman dulu yang tersedia di warung kecil berderet sepanjang jalan Benowo Park. 

Menariknya adalah pengunjung membeli jajanan dengan koin uang klithik setiap hari kamis wage.

Rerimbunan pohon menjadi tempat bermain penghuni tetap berupa monyet-monyet yang selalu menemani pengunjung, kawasan ini benar-benar menjadikan pikiran kita jadi segar, fress, siang itu di bawah pohon yang begitu bersahabat memberikan hawa sejuk raga ini sambil menyantap cemilan cemilan zaman dahulu yang sudah tergerus oleh makanan siap saji apalagi di perkotaan makanan jadul sudah tidak laku sehingga kitalah yang seharusnya menghidupkan tradisi kuliner sehat ala jadul. 

Otak kita akan cepat stress jika selalu kita paksa kerja rodi maupun kerja romusa, otak perlu nutrisi, sehingga banyak yang bilang “kurang piknik lu” ada benarnya juga dan saya dukung ucapan itu. serius tidak identik dengan ketegangan, selow tidak identik dengan pemalas. 

Jadi…karenaku Selow, ku selow, santai, santai….. hehe.. 

KMO Indonesia sukses ! Semangat teman-teman jadilah orang yang selalu berkarya, Sarkat akan jadi sebuah habit yang bermanfaat bagi kemajuan literasi Indonesia.

By Mohamad Gozali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah dari Kepatuhan

"Gemes juga, penginnya nich kalau ketangkep gua cincang dia." Pagi pagi betul dia bergegas pergi keluar dari rumah, sepeda Gazella ia kayuh dengan gagahnya menuju tempat di mana ada orangtua yang biasa diajak konsultasi, ya kyai sapi'i seorang kyai kharismatik. Pembawaanya biasa saja, bersahaja, sederhana tidak terlihat seperti kyai pada umumnya, tidak membuat orang canggung maupun segan dengan beliau sehingga permasalahan bisa tersampaikan dengan detail tanpa takut ditutup tutupi. "Jadi begini pak kyai, sudah tiga hari ini ada saja yang hilang, kalau ikan asin sih sillakan saja, nah ini kepingan emas." Kata subono mengebu gebu. "O begitu, ya mungkin itu pencuri, kalau ketemu tangkep saja." "Ah pak kyai ya tau kalau yang mencuri ya jelas pencuri, maksud saya tau siapa dia? Apa yang harus saya amalkan pak kyai." desak Subono "Ooh gitu, yang pertama kamu harus rajin sodakoh kepada orang yang tidak minta kepadamu, kedua kamu har...

Pantaskah...

Tak sesuci yang kau kira Tak sedekat yang kau sangka Kulit tak dapat mengeksplorasi isi Cukup khusnudhon sangkaan tak akan terbebani Intensitasmu membawa ke arah angkuhmu Kedekatanmu membuat “rasa” itu berubah jadi “merasa” Angkuhmu menutupi etika kesopanan terhadap mereka yang jauh Sikapmu membuat yang jauh menjadi rendah dihadapanmu Tak begitu berpengaruh pada sang kekasih hati Tidak ada masalah yang menjadi “sesuatu” Semua sederhana, mengalir begitu saja tak ada yang penting-penting amat Rumit jadi sederhana, tidak ada sesuatu yang begitu serius Apakah dekat dengan kekasih ada jaminan masuk syurga? Tingkah laku aneh sang kekasih tak sanggup diterjemahkan Semua tentang kekasih hati ditelan mentah-mentah Kedekatannya membuat mata jadi buta, telinga tak sanggup mendengar Akalmu tak sehat lagi, kamu mabuk, kamu sudah gila Tak bisa mencapainya bahkan tak dapat mengunyah  Ada yang harus difilter tapi kamu tidak sanggup mengambil sikap Takut dengan kutukan sang kekasih hati...

Semarang Selalu Terkenang

  Sirine mengaung aung memekakan telinga menerobos lampu merah di jalanan yang begitu padat lalu lalang pengguna jalan pulang dari pekerjaannya. Sore itu semburat orange nampak menipis dari arah barat, mentari hanya sebatas kenangan dan datanglah suasana malam Adzan Maghrib berkumandang menyeru bagi mereka yang butuh ridho Allah. Wajah cantik seorang muslimah terlihat begitu gusar berdiri di halte menunggu bus Trans Jateng. Waktu bergulir begitu cepat Maghrib pun hilang berganti malam. Suasana kota Semarang malam itu bertabur sinar lampu merkuri terlihat menawan semenawan Naila sang gadis muslimah yang tidak kebagian bus kota. Dari arah kafe dekat halte ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Naila yang nampak mondar mandir kebingungan karena kemalaman di jalan. Tergerak hati sang pemuda menyambangi gadis muslimah, sekedar bertanya, dan menawarkan tumpangan. Curiga merangsak hati Naila untuk menolak tawaran sang pemuda yang berkalung salib itu. Walau begi...