Tetesan embun pagi itu terlihat bagaikan butiran –butiran mutiara yang keluar dari sisa anugerah Allah tadi malam. Sorotan matahari yang menerpa kami memberikan kehangatan di tengah panasnya dua kubu yang sedang bertaruh mengantar pasangan mereka ke puncak kekuasaan.
Penatnya rutinitas setiap hari sangat mengganggu kesehatan otak kita, namun sejalan dengan semua itu perlu adanya refress, kebekuan daya fikir kita, perlu dicairkan sehingga pencapaian yang kita inginkan tidak monoton, ada variasi yang bisa menyegarkan dan sedikit menghilangkan ketegangan yang hanya akan merusak sendi dalam kehidupan fisik maupun psikis kita.
Ada keinginan di sana namun juga ada harapan di sini, jangan sampai keinginan menggugurkan harapan. Cari yang lebih besar sementara si kecil kita kesampingkan.
Perlu adanya keseimbangan dalam hidup. Raga ini perlu perawatan jangan dipaksa dan diperkosa mencari kesenangan dunia semu dan limited, setelah semuanya didapat badan lelah ancaman kanker datang, struk melanda, mereka berafiliasi membentuk sebuah organisasi leburan mengubah menjadi koalisi komplikasi yang siap menggempur tubuh yang lengah dan terpuruk, apakah kamu mau?
Sebuah pertanyaan klise yang bermuatan memaksa untuk menggiring pada satu alur jawaban “tidak!”
Pagi itu awan tebal nakal selalu saja menggoda mentari yang ingin menampilkan diri untuk bisa dilihat makhluk diatas muka bumi ini, namun awan mendung tak rela kalau ada yang sengaja merebut perhatiannya, sementara seekor burung merpati meliuk-liuk mengepakkan sayap siap mengincar pasangan kekasih hatinya.
di sisi lain seekor merpati yang sedang terbang tinggi dalam kalut dan kebingungan mencari belahan hatinya yang sengaja disekap oleh tangan jahil manusia seakan sedang menguji kesetiaan sang peliharaannya itu.
Di atas terlihat dia seperti mengikutiku terbang kemana arahku berjalan.
Jalanan mulus beraspal sesekali lubang muncul begitu saja menggetkan motor tuaku yang sedang melaju, walaupun tidak separah dulu saat proyek jalan tol masih berjalan, namun belum semulus yang diharapkan, apalagi jalan yang menuju desa Sungapan merupakan jalur yang banyak dilalui oleh masyarakat sekitar dan juga masyarakat diluar daerah yang justru semakin banyak.
Hal ini karena dibukanya Taman Makam Pahlawan Pengeran Benowo diolah dan dirias sehingga lebih cantik dan menjadi obyek witasa Benowo Park.
Ternyata saya lihat ke atas merpati itu sudah tidak lagi mengikuti arahku berjalan, yang terlihat hanya lajur beton yang lebar menjadi sebuah terowongan karena jalan yang saya lalui menerobos dan membelah ruas jalan tool.
Ya jalan tol yang menghubungkan Pemalang Semarang, walaupun belum sempurna namun sudah bisa dilalui oleh banyak kendaraan. Dampak dari jalan tol tentu ada yang positif dan juga negative namun dalam hal ini saya tidak akan mengkritisi kebijakan pemerintah saya hanya berharap Negara Indonesia akan lebih baik untuk tahun yang akan datang siapapun presidenya.
Tidak terasa sampailah dipertigaan jalan antara desa jebed, sungapan dan penggarit, sayapun membawa kendaraan ke desa Penggarit, roda kendaraan melaju membawaku ke sebuah pemandangan yang begitu asri kanan kiri jalan terlihat sungai dengan debit air yang cukup tinggi, pepohonan yang hijau serta rumput yang tumbuh dan terawat, sungguh menjadikan pikiran jadi adem.
Terpampang tepat di depan saya sebuah bendungan besar dan kendaraanpun harus turun gigi untuk mendaki jalanan yang cukup tinggi yang dibawahnya adalah bendungan dengan air terjun yang begitu deras airnya, sampai tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kita terjun bebas ke bawah, jalanan yang cukup sempit dan harus bergantian jika ada mobil lewat menjadikan nyali menjadi ciut, bagaimanapun tak ada yang berani ceroboh di atas jembatan yang tidak lebar itu.
Jalanan turun dan berbelok arah ke kanan melewati sebuah taman makam pahlawan Penggarit menelusuri sungai di sebelah kanan saya, dan tidak lama terlihat gerbang masuk yang dijaga oleh petugas loket, dan terpampang diloket tulisan besar Rp. 3000 perorang, sebuah harga yang sangat murah untuk sebuah kawasan wisata.
Lahan parkir cukup luas dipisah antara kendaraan roda dua dan mobil, sementara sebuah arena olahraga panah terlihat ramai dikunjungi dan digandrungi anak-anak usia SD dan SMP.
Masuk saya ke area wisata yang lebih tepat kalau saya bilang adalah sebuah taman yang dibangun pemerintah setempat dan diuri-uri oleh warga setempat dengan jajanan jaman dulu yang tersedia di warung kecil berderet sepanjang jalan Benowo Park.
Menariknya adalah pengunjung membeli jajanan dengan koin uang klithik setiap hari kamis wage.
Rerimbunan pohon menjadi tempat bermain penghuni tetap berupa monyet-monyet yang selalu menemani pengunjung, kawasan ini benar-benar menjadikan pikiran kita jadi segar, fress, siang itu di bawah pohon yang begitu bersahabat memberikan hawa sejuk raga ini sambil menyantap cemilan cemilan zaman dahulu yang sudah tergerus oleh makanan siap saji apalagi di perkotaan makanan jadul sudah tidak laku sehingga kitalah yang seharusnya menghidupkan tradisi kuliner sehat ala jadul.
Otak kita akan cepat stress jika selalu kita paksa kerja rodi maupun kerja romusa, otak perlu nutrisi, sehingga banyak yang bilang “kurang piknik lu” ada benarnya juga dan saya dukung ucapan itu. serius tidak identik dengan ketegangan, selow tidak identik dengan pemalas.
Jadi…karenaku Selow, ku selow, santai, santai….. hehe..
KMO Indonesia sukses ! Semangat teman-teman jadilah orang yang selalu berkarya, Sarkat akan jadi sebuah habit yang bermanfaat bagi kemajuan literasi Indonesia.
By Mohamad Gozali
Komentar
Posting Komentar